Marquez Mengaku Selalu Pesimis di Setiap Musim untuk Memacuh Diri

by

Ulasanbola – Pembalap Repsol Honda, Marc Marquez mengungkapkan salah satu faktor yang selalu membuatnya lebih siap dalam menghadapi situasi apapun. The Baby Alien mengaku selalu merasa pesimis setiap kali memulai musim, hal itu disampaikannya saat menghadiri sebuah acara bernama El Hormiguero beberapa waktu lalu.

Marquez memang disebut sebagai seorang pembalap bertalenta besar sejak menjuarai MotoGP 2013 lalu. Dirinya langsung mencuri perhatian dunia saat berhasil mengalahkan Jorge Lorenzo dengan dramatis dan selisih empat poin, yakni 334 poin.

Sejak memulai karir balap pada tahun 2008 lalu, Marquez telah mencatatkan 70 kemenangan dan 116 podium. Torehan fantastis tersebut masih terus dapat ditingkatkan mengingat usianya masih tergolong muda.

Kendati demikian, meski Marquez sudah lima kali menjuarai dunia MotoGP, tapi dirinya selalu menganggap gelar yang diraihnya adalah gelar yang pertama dan terakhir. Sikap pesimis tersebut dilakukan demi membuatnya lebih siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi di musim berikutnya.

Akan Lebih Siap untuk Gagal

Akan Lebih Siap untuk Gagal
“Orang berpikir adalah hal yang wajar bagi Marc Marquez untuk menang. Tetapi sebenarnya tidak! Setiap kali meraih gelar juara, saya merasa itu adalah gelar yang pertama dan juga yang terakhir. Saya selalu memulai musim dengan berpikir ‘tahun ini saya tidak akan juara’. Jadi secara psikis, itu akan membuat Anda lebih siap jika gagal juara atau pembalap lain yang merebut gelar.” terang Marquez.

Selain itu, Marquez juga mengaku mengambil banyak hal positif dari karakter yang dimiliki Valentino Rossi. Meski hubungan keduanya tidak harmonis saat ini, tapi The Baby Alien merasa terkesan dengan motivasi besar yang dimiliki The Doctor.

“Kekuatan mental adalah segalanya (dalam dunia balap motor). Vale yang saat ini hampir 40 tahun, masih tampil dengan sangat baik seperti sekarang karena motivasi yang dia miliki. Saya suka dengan tekanan dan motivasi, itulah alasan saya memaksakan diri agar mengunci gelar juara di Jepang. Tentu saja saya memiliki perkiraan yang buruk, tapi kunci terpenting adalah melampauinya. Tekanan membuat Anda memiliki perspektif berbeda untuk mengerjakan dan menganalisa sesuatu.” tutup pembalap berusia 25 tahun tersebut.